Easy Bussiness

Motivator Bisnis Menumbuhkan jiwa Entrepreneur

Motivator Bisnis Menumbuhkan jiwa Entrepreneur

Motivator Bisnis Menumbuhkan jiwa Entrepreneur | Pemilik kegiatan wirausaha yang berkarakter cerdas dalam menemukan produk baru, membuat produk dicintai konsumen, serta mampu mengelola kegiatan perusahaan disebut Enterpreneur. Seorang Entrepreneur bila memiliki keahlian dalam memanajemen bisnis atau usahanya tentu akan lebih mudah dalam menjalankan usaha tersebut. Masalah dari usaha yang digelutinya akan lebih cepat ditemukan, hingga kesalahan – kesalahan yang perlu diperbaiki atau evaluasi untuk  perjalanan selanjutnya akan mudah dibetulkan kembali menghindari kesalahan fatal tersebut

Nah, dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa dengan banyaknya kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan ada hal terpenting yang harus diutamakan dimiliki seorang wirausahawan. Bahkan sifat ini harus dimiliki sejak seorang wirausahawan tersebut merintis usahanya. Apakah sifat tersebut yang harus dimiliki wirausahawan? Sifat tersebut adalah jiwa yang baik. Jiwa yang baik tentu tidak serta merta didapatkan oleh setiap orang khususnya para pengusaha atau Entrepreneur nich. Ada tahapan yang mesti dilaluinya kata Mas Ippho Santosa.
Motivator Bisnis Menumbuhkan jiwa Entrepreneur


Bicara soal jiwanya pengusaha, ada sebuah cerita di Australia yang diceritakan Kapten Sar.
Begini ceritanya:
Cerita ini berawal dari keluarga yang sedang sakit di Rumah sakit. Di rumah sakit tersebut yang sakit adalah seorang kakek yang telah divonis terkena penyakit komplikasi jantung oleh dokter. Singkat cerita Dokter mengatakan bahwa kakek harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Pada suatu hari si kakek memanggil si nenek.

Kakek : mama tolong kemari...
Nenek : iya ayah, ada apa??? (dengan sangat lembut, samil menghampiri kakek)
Kakek : kemaren ayah memasang lotre, tolong mama pulang kerumah dan lihat di saku celana ayah, siapa tau ayah menang.
Nenek : baik ayah.

Kemudian setalah sampai dirumah diperiksa saku celana si kakek. Diambil kupon lotre yang ada di saku celana kakek dan di periksa kupon tersebut. Alangkah terkejutnya si nenek setelah mencocokkan kupon lotre tersebut. Kupon lotre tersebut memperoleh hadiah utama sebesar satu miliyar. Dicocokkan berkali-kali oleh nenek. Nenek sangat senang dan tidak percaya kalau kakek menang serta mendapat hadiah utama. Tapi tiba-tiba wajah senang nenek berubah karena nenek khawatir. “bagaimana ini ayah lagi sakit jantung, apa ayah siap jiwanya mendengar kabar yang sangat mengejutkan ini?” pikir nenek dengan cemas. Setelah lama berfikir, nenek mendapat inisiatif untuk meminta bantuan Docter untuk menyiapkan jiwanya kakek. Ternyata dokter ini sangat senang dan berjanji untuk menyiapkan jiwanya kakek. “Nenek tenang saja, saya sebagai dokter senior di sini akan mempersiapkan jiwanya kakek. Sekarang kupon lotrenya berikan pada saya dan serahkan masalah ini pada saya.” Begitu kata dokter.
Saat itu juga dokter langsung menuju tempat kakek dirawat. Dengan hati-hati dokter menemui kakek sambil mengatur siasat agar siap jiwanya. Awalnya dokter mengambil perumpamaan seperti ini.

Dokter : kakek, ini seandainya, seandainya kakek menang lotre berhadiah 250.000.000 hadiah ketiga bagaimana kakek?
Kakek : (terdiam sejenak) kalau saya mendapat hadiah 250.000.000, maka saya akan mengambil 200.000.000 untuk investasi dan 50.000.000 saya sumbangkan untuk panti asuhan.
Dokter : “waah kakek sudah siap jiwanya” ( pikir dokter, kemudian dokter beralih ke sesi kedua). Begini kek, seandainya kakek menerima hadiah kedua senilai 500.000.000?
Kakek : (diam sejenak) begini dok seandainya saya menang hadiah kedua 500.000.000, maka saya akan mengambil 400.000.000 dan 50.000.000 saya bagikan pada tetangga. Sedangkan 50.000.000 untuk fakir miskin. Ternyata kakek siap jiwanya.
Dokter : (ketiga kalinya dokter sangat hati-hati, dengan bahasa yang sopan dan penuh permohonan maaf) kakek mohon maaf, seandainya, seandainya kakek mendapat hadiah utama 1 miliyar bagaimana ?
Kakek : (kembali terdiam sejenak)
Dokter : (berharap mendapat jawaban dan reaksi dari kakek yang sakit jantung)
Kakek : ( sambil berteriak ) Begini dok, seandainya saya menerima hadiah utama senilai 1 milyar. Maka demi tuhan yang 500.000.000 buat saya. dan 500.000.000 akan saya berikan kepada dokter, TUNAI...

Kemudian apa yang terjadi??? Ternyata dokternya yang pingsan. Dokter tidak siap jiwanya meneriama hadiah dari kakek 500.000.000,- Dokter tersebut tidak  mempersiapkan dirinya untuk siap menghadapi kemungkinan terburuknya. Nah.... ini sering terjadi dalam manajemen bisnis dimana setiap orang kadang tidak siap menghadapi kegagalan. Kata para motivator ingat kenikmatan melupakan kesengsaraan. Bila ini ingat kenikmatan dan melupakan kesengsaraan ini berbahaya bila diterapkan oleh para pengusaha. Yang akan terjadi bila pengusahaan tersebut sukses atau jaya akan dapat kehilangan kontrol dalam menggunakan kejayaannya, yang akan terjadi adalah akan mendapati usaha yang tersebut tidak bertahan lama. Bila usaha tersebut sudah tidak bertahan lama, atau eksistensinya hanya seumur jagung, maka kita harus berusaha lagi, memulai lagi, tentu hal ini tidak diinginkan oleh setiap pengusaha. Tentu yang diinginkan oleh setiap pengusaha adalah usahanya yang kian bertambah berkembang dari waktu kewaktu.

Cerita ini menggambarkan bahwa untuk menyambut impian, maka harus mempersiapkan jiwanya. Inilah yang perlu dilakukan bagi seorang calon pengusaha untuk menjadi pengusaha yang baik. Untuk menumbuhkan jiwa pengusaha perlu latihan dan persiapan. Dari setiap buku atau bahasan dari manajemen bisnis yang kadang dibawakan oleh Motivator tentu tidak luput dari persiapan. Persiapan yang paling utama ini yang harus anda temukan serta kuatkan. Memang tidak mudah menjadi pengusaha namun setelah anda menjadi pengusaha anda akan mengatakan “ini mudah dan tidak sebanding dengan yang saya dapatkan”. 

“Pengusaha adalah yang paling banyak berusaha”





share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Moh yazid, Published at 05:39 and have 0 comments

No comments:

Post a Comment